Label

Tampilkan postingan dengan label Beranda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beranda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 September 2021

PESONA BIRU

Mata indah ingin menyapa

Mulut membisu ingin berkata

Kaki terhenti ingin melangkah

Jantung berdetak mencari tahu

Siapakah dia di balik kerudung itu?

Kerudung yang tidak bisa aku sentuh

Seperti awan nan jauh di atas sana

Bolehkah aku tahu nama itu

Dia sang pemilik kerudung biru

Pesona yang membuat hati tenteram di dalam sana

 

~Ars_M~

Rabu, 22 September 2021

DUA EMPAT

Dunia ini bukan kau
Untukku menemui cahaya baru
Alangkah jauh berpikir
Entah memang semua hampa
Membuat esok mungkin tak ada
Perantara menuju keabadian
Andai semua pasti
Tempat ini sungguh indah

~Ars_M~

DUA TIGA

Dalam nafas kehidupan
Usia bagai aroma yang berlalu
Antara ingin terus berjalan atau cukup sampai di sini
Tapi hastrat hati terus memanggil
Iizinkan aku untuk bersama mereka yang tersayang
Gambaran bahagia menanjti fajar
Andai malampun tahu

~Ars_M~

Senin, 16 Mei 2016

Tujuh Belas Nahkodah




Tujuh Belas Nahkodah
Nyanyian angin menerpa
Luapan ombak menyapa
Perahu berlayar penuh kendali nahkodah
Menelusuri sepuluh petala bumi

Tujuh belas pasukan armada
Pengendali penuh arti masa depan
Tonggak penerus kepemimpinan
Mengucapkan sumpah dengan janji kesetiaan
Memulai sebuah peradaban

Mereka datang dari sepuluh tempat terbaik
Mewakili seluruh harapan penuh arti
Bukan citra diri tujuan ini
Semata-mata ingin mengabdi untuk negeri
Menjadi energi dan inspirasi bagi bangsa
Sebab kami berjiwa muda, generasi tangguh, harapan bangsa

__Ars. M__ (6 Desember 2014)

Jumat, 23 Januari 2015

Cinta Sederhana

Cinta itu sederhana
Cukup dengan aku mengenalmu
Cinta itu sederhana
Cukup dengan aku mengetahui kabarmu
Cinta itu sederhana
Cukup dengan aku melihatmu tersenyum
Cinta itu sederhana
Cukup dengan kau menyapa saat kita bertemu
Cinta itu sederhana
Cukup dengan aku memiliki kenangan indah bersamamu
Cinta itu sederhana
Walau aku terus bermimpi kau datang bagai Cinderella
Cinta itu sederhana
Walau perbedaan kita terlihat jauh
Cinta itu sederhana
Walau nyatanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai
Cinta itu sederhana
Walau nantinya aku tak mampu menghapus bayangmu
Cinta itu sederhana
Walau nantinya hubunga kita sebatas teman
Cinta itu sederhana
Walau mataku tak mampu melihatmu lagi
Cinta itu sederhana
Walau telingaku tak mendengar kabarmu lagi
Cinta itu sederhana
Walau kakiku tak mampu melangkah menghampirimu
Cinta itu sederhana
Walau aku tak dapat memilikimu
Cinta itu sederhana
Walau cintaku tak terbalas olehmu
Cinta itu sederhana
Walau kutahu cintamu bukan untukku
Biarkan aku tetap menjaganya
Hati yang selalu ada cinta
Cinta suci dan tulus untukmu
Karena apa artinya cinta?
Tak akan pernah ada jawaban untuk diriku.


~Ars_M~ 

Ingatkah???



Ingat, ketika ibu mengandung sembilan bulan
Ingat, ketika ibu berjuang melahirkan putra putri kesayangannya
Ingat, ketika ibu setulus hati menyusui mu saat masih bayi
Ingat, ketika ibu bangun saat engkau menangis di tengah malam
Ingat, ketika ibu menghilangkan rasa sakit di tangan hanya untuk menggendong mu
Ingat, ketika ibu merangkul saat engkau jatuh untuk belajar berjalan
Ingat, ketika ibu memandikan dengan penuh kegembiraan
Ingat, ketika ibu menyediakan makanan kesukaan di atas meja
Ingat, ketika ibu selalu berdoa untuk putra putrinya di mana pun engkau berada  
Ingat, ketika ibu selalu berusaha tersenyum ketika engkau ada di hadapannya
Ingat, ketika ibu bahagia saat ada kabar dari mu
Ingat, ketika ibu berusaha memberikan segala keinginan mu
Dan ingatlah ketika engkau hendak meninggalakan beliau
Dan ingatlah ketika engkau tak ada di dekatnya saat beliau sakit
Dan ingatlah ketika engkau tidak bisa melihat wajah beliau untuk terakhir kalinya
Ingatlah...Ingatlah…Ingatlah…

Selasa, 15 Juli 2014

UNGKAPAN TRADISIONAL DALAM BUDAYA SUMBAWA


Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu bangsa yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, secara tradisional dalam versi yang berbeda-beda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat. Folkor berkembang sesuai tingkat religi masyarakat itu sendiri. Hal ini, karena kerja folklor tidak terlepas dari hasil pemikiran manusia. Folklor diciptakan, di sebarkan, dan diwariskan secara lisan (dari mulut ke mulut). Oleh karena itu, folklor tersebar hanya di daerah tertentu yang masyarakatnya masih berhubungan erat dan masih dalam satu ruang lingkup komunikasi. Folklor tersebar begitu saja sehingga tidak diketahui penciptanya. Folklor sendiri terdiri atas berbagai macam versi serta mengandung pesan moral. Adapun folklor lisan yang bentuknya murni lisan yaitu diciptakan, di sebar luaskan, dan di wariskan secara lisan. Contohnya: bahasa rakyat (logat, julukan), ungkapan tradisional (pribahasa, pepatah), pertanyaan tradisional (teka-teki), puisi rakyat (pantun, syair), cerita prosa rakyat (mitos, legenda, dongeng) dan juga nyanyian rakyat (di sebut juga lagu-lagu di berbagai daerah).
Sama halnya dengan daerah-daerah lain di penjuru Indonesia. Daerah Sumbawa juga memiliki kebudayaan yang menjadi ciri khas masyarakat Sumbawa. Masyarakat Sumbawa biasa di sebut dengan “Tau Samawa”. Para tau Samawa pada zaman dahulu memiliki berbagai macam adat-istiadat tradisional yang bernilai seni sastra. Salah satunya yakni Lawas, Tuter, Panan, dan Ama. Semua ini merupakan bagian dari folklor atau hasil kreativitas para tau Samawa pada zaman dahulu yang disampaikan secara turun-temurun hingga ke generasinya saat ini. Macam-macam folklor ini di buat sesuai dengan fungsi atau maksud dan cara penyampainya masing-masing.
Adapun ungkapan tradisional dalam budaya Sumbawa disebut dengan “Ama.” Ama merupakan pribahasa ciri khas daerah Sumbawa. Ama ini dibuat oleh para tau Samawa, berbentuk kata kiasan dalam bahasa Sumbawa yang memiliki makna-makna tertentu, dapat berisi petuah, nasehat, dan pelajaran bagi pendengarnya. Fungsinya untuk mengajarkan moral kepada generasi-generasi muda. Proses edukasi seperti ini juga mengandung nilai seni, karena Ama merupakan hasil kreativitas atau buah pikir manusia yang di ungkapkan dengan kata-kata yang di indahkan.

Beberapa contoh ama dalam budaya Sumbawa, sebagai berikut:

  • Yamo porat air langan poto artinya “bagai menarik bambu dari ujungnya.” Adapun maksud dari ungkapan ini adalah ungkapan untuk orang yang sedang menghadapi masalah berat.
  • Mara bote bau balang artinya “Seperti kera menangkap belalang.” Adapun maksud dari ungkapan ini adalah jika kera menangkap belalang maka akan di simpan diketiaknya, lalu mengkap lagi dan yang di simpan itu terbang lagi. Ini merupakan ungkapan untuk orang yang tidak puas dengan apa yang diperoleh.
  • Ajar bote ntek kayu artinya “mengajar kera memanjat pohon.” Adapun maksud dari ungkapan ini adalah sindiran untuk orang yang banyak bicara padahal orang yang diajak bicara lebih pintar. Ungkapan ini juga sindiran untuk orang yang sombong.
  • Yamo tu bolang sira lako lit artinya “bagaikan membuang garam di laut.” Adapun maksud dari ungkapan ini adalah sindiran untuk orang yang diberi nasihat namun tidak menghiraukan atau orang yang memberi pertolongan kepada orang yang tidak butuh pertolongan.
  • Mara bodok sio kuku artinya “bagai kucing yang menyimpan kuku.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah sindiran bagi orang pintar yang suka menyembunyikan kepintarannya.
  • Turit jempang tau nyoro artinya “mengikuti jejak pencuri.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah ungkapan untuk orang yang selalu sial, seperti di tuduh berbuat jahat padahal orang itu tidak melakukannya.
  • Bastili pang salak rebu selamar artinya “berlindung dibalik sehelai rumput.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah sindiran untuk orang yang selalu menyembunyikan kesalahan dengan bermacam-macam alasan.
  • Mara jaran boko gula artinya “seperti kuda membawa gula.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah ungkapan untuk orang yang sudah bekerja keras namun orang lain yang menikmati hasilnya.
  • Tili sira no basa artinya “melindungi garam agar tidak basah.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah sindiran untuk orang yang suka menyembunyikan aibnya agar tidak diketahui orang lain.
  • Mara pio adang adal artinya “seperti burung menghadang embun.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah ungkapan untuk orang yang melakukan pekerjaan yang sia-sia.
  • Ete range teruk mata artinya “ambil kayu tusuk mata.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah ungkapan untuk orang yang melakukan pekerjaan beresiko tinggi.
  • Irak rum motong setambul artinya “ribut di roma kebakaran di istambul.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah ungkapan suatu peristiwa di mana lain tempat kejadiannya tapi lain tempat ribut atau hebohnya.
  • Jaran rea rik tali artinya “kuda besar menginjak tali.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah ungkapan untuk seorang yang melakukan sesuatu tapi tidak sadar berdampak buruk pada dirinya.
  • Bilen api bao puntuk artinya “meninggalkan api di atas potongan kayu.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah ungkapan untuk seorang yang meninggalkan pekerjaan yang belum selesai.
  • Mira kepia artinya “Merah songkok.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah sindiran bagi orang yang selingkuh.
  • Ayam todok tele artinya “ayam mematok telur.” Adapun makna dari ungkapan ini adalah ungkapan untuk seorang yang tidak berhasil memimpin suatu kelompok, organisasi atau lembaga.
Demikian beberapa penjelasan dan contoh ungkapan tradisional dalam budaya Sumbawa yang disebut dengan “Ama.” Semoga dengan penjelasan ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman dalam dunia folklor nusantara di Indonesia, khususnya budaya yang ada di Sumbawa-Nusa Tenggara Barat.

Kamis, 12 Juni 2014

Folklor Nusantara "Bahasa Rakyat" Sumbawa

Bahasa Rakya
1. Nama panggilan
Nama panggilan ini merupakan sebuah panggilan khas atau lazim masyarakat Sumbawa untuk nama-nama  tertentu, nama panggilan ini tidak diketahui siapa yang membuatnya. Namun, nama panggilan sudah melekat kepada setiap orang sebagai panggilan kesayangan atau panggilan kecil yang di mana masyarakat Sumbawa menyebutnya dengan istilah pedondo. Berikut beberapa contoh panggilan nama tersebut,
NAMA
NAMA PANGGILAN
Abdullah
Ahmad
Aminah
Aminudin
Aisyah
Burhanudin
Bansawan
Gaffar
Gafur
Hasanudin
Husain
Hasanah
Hamid
Fatimah
Halimah
Hadiah
Halim
Iqbal
Ibrahim
Ihsan
Intan
Ilham
Jafarudin
Jamaludin
Jalaludin
Jawaria
Kamaludin
Khaidir
Khaerudin
Kamariah
Muhammad
Maimunah
Nilawan
Nurdin
“Nur” pada nama laki-laki
“Nur” pada nama perempuan
Patawari
Patahollah
Rahma
Rahmat
Rahim
Rabiatul
Rukmini
Rosmiati
Rohana
Saleh
Sri
Siti
Syaifudin
Syaifullah
Salahudin
Syafrudin
Syamsudin
Syafarudin
Syofyan
Zakariah
Zaulkifli
Zainudin
Bedo, Doya
Jame, Hemat, Mek
Mindong
Ami
Icang
Boha
Benga
Ape
Apung
Ace
Uce
Nun
Ame’
Imbuk
Imo
Iyo
Halum
Ibeng
Jaho
Iceng
Ite
Ilo
Jepo
Jambul
Jalik
Jawe
Kambeng
Ide
Ude
Kambeng
Ame
Memun
Aweng
Ndin
Ne
No
Pato
Doya
Ma
Mat
Ahim, Aho
Atul
Ruk
Ro
Ro
Jale
Jrek
Itik
Aip
Ipul
Laho, Bo
Sap
Co
Ape
Piyo
Jake, Sake
Akif
Ude

2. Gelar/tahta kebangsawanan Sumbawa
Gelar kebangsawanan di dalam masyarakat Sumbawa sebenarnya lahir jauh sebelum Islam datang tapi dalam kehidupan masyarakat feodal masa lalu meskipun Islam sudah masuk mereka tetap memelihara stratifikasi sosial untuk mbedakan bangsawan dengan masyarakat biasa karena umumnya para bangsawan tersebut adalah pemegang kekuasaan.
Ada beberapa gelar bangsawan dalam adat Tana Samawa :
a.    Daeng diberikan kepada putra dan putri Sultan maupun putra dan putri saudara Sultan yang menikahi suami atau istri yang sama bergelar Daeng. Disamping itu gelar Daeng juga diberikan kepada putra dan putri pejabat tinggi kesultanan seperti Menteri Telu.
b.   Datu diberikan kepada yang putra Datu yang menikahi putri Sultan atau Menteri Telu yang bergelar Daeng dan/atau putri Datu.
c.  Lalu dan Lala diberikan kepada putra dan putri Sultan maupun bangsawan pangkat atau pejabat dari istri yang kebangsawanannya lebih rendah dan bila sudah menikah menjadi Dea Radan.
d.    Dea diberikan selain kepada bangsawan pangkat dan juga kepada bangsawan pada umumnya sebagai panggilan. Dea ada dua garis pokok yakni dea pangkat (sampongo) dan dea biasa atau pongo singin yakni dea yang dipanggil mengikuti nama anaknya.

3. Logat dalam bahasa Sumbawa
    Logat dalam bahasa Sumbawa sangat berpengaruh terhadap posisi geografis dan ada tiga wilyah            pembagiannya yaitu timur, barat, dan tengah.
a.       Logat wilayah Timur
      Untuk wilayah timur memiliki logat yang cepat dan jelas dalam pegucapan kata-kata. Dalam pengucapannnya tidak ada penekanan khusus, semua kata diucapkan sesuai dengan bentuk penulisannya. Contoh: - Kam maning (Sudah mandi); - Kam mangan (Sudah makan).
b.      Logat wilayah Barat 
     Untuk wilayah barat memiliki logat yang lebih lambat dan jelas dalam pengucapan kata-kata. Lambatnya pengucapan ini dikarenakan adanya tekanan pengucapan dalam huruf vokal pada suatu kata. Contoh: - Kam maniii (Sudah mandi); - Apa boaaat (Apa kerja).
c.       Logat wilayah Tengah
    Untuk wilayah tengah memiliki logat yang lebih fleksibel, dikarenakan posisinya di tengah jadi logat yang dimiliki tidak ada yang terlalu mendominasi. Logat yang mempengaruhinya berasal dari dua wilayah sebelumnya yaitu timur dan barat.

sumber : Joe Think dan Muhammad Iqbal, S.Sos.